Pembahasan mengenai masa depan pangan kerap berfokus pada upaya meningkatkan produksi. Namun, ketangguhan sistem pangan sama bergantungnya pada keragaman: seberapa banyak jenis tanaman, bahan pangan, dan jalur pasok yang dapat diandalkan ketika kondisi berubah. Sorgum termasuk salah satu biji-bijian yang kembali mendapat perhatian dalam konteks ini, dan potensinya paling tepat dipahami dengan melihat secara jujur, baik peluangnya maupun upaya yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.
Keragaman sebagai Fondasi Ketangguhan
Kajian global Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengenai keanekaragaman hayati untuk pangan dan pertanian menyebut keragaman tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme dalam sistem pertanian sebagai fondasi ketahanan pangan, sekaligus mengingatkan bahwa keragaman ini berada di bawah tekanan (FAO, 2019). Ketika pola konsumsi dan rantai pasok bertumpu pada sedikit jenis bahan pokok, satu kali gagal panen, serangan hama, atau gejolak harga dapat berdampak luas.
Agenda 2030 mencerminkan kekhawatiran yang sama. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-2 mengaitkan upaya mengakhiri kelaparan dengan pertanian berkelanjutan, serta memuat target mengenai sistem produksi pangan yang tangguh dan pemeliharaan keragaman genetik tanaman budi daya (United Nations, 2015). Memperluas ragam biji-bijian yang sampai ke dapur dan industri pangan merupakan salah satu cara praktis untuk mendukung sasaran tersebut, dengan syarat pilihan baru itu layak secara komersial.
Potensi Sorgum Bergantung pada Rinciannya
Sorgum adalah tanaman serealia yang dibudidayakan di banyak belahan dunia dan dimanfaatkan sebagai tepung, biji utuh, serta beragam olahan pangan. Tanaman ini kerap dihargai karena kemampuannya tumbuh di kondisi yang lebih kering. Reputasi tersebut menjadi alasan untuk tertarik, bukan jaminan manfaat. Kinerja lingkungan suatu produk sorgum bergantung pada cara budi daya, pengolahan, dan pengangkutannya, dan kondisi ini berbeda dari satu rantai pasok ke rantai pasok lainnya.
Kehati-hatian yang sama berlaku untuk aspek gizi. Setiap produk sorgum memiliki komposisi yang berbeda, sehingga klaim kesehatan maupun keberlanjutan perlu didukung bukti untuk masing-masing produk, bukan dipinjam dari reputasi umum tanamannya. Bagi pembeli, hal ini menjadi ukuran yang berguna: pemasok yang kredibel mampu menjelaskan dasar dari setiap klaimnya.
Menghubungkan Produsen dengan Permintaan Pasar
Tanaman yang menjanjikan sekalipun tidak banyak berkontribusi pada ketangguhan pangan apabila tidak pernah masuk ke menu dan belanja rutin. Tahap ini membutuhkan pengembangan pasar: memahami kebutuhan juru masak, pelaku usaha pangan, dan rumah tangga; menunjukkan kinerja suatu bahan dalam penggunaan nyata; serta membangun distribusi yang andal.
Di sinilah peran Futura Foods. Futura Foods menjalankan pengembangan pasar, pemasaran, dan distribusi antarbisnis (B2B) bahan pangan berbasis sorgum bagi pelaku usaha makanan dan minuman, sektor HORECA (hotel, restoran, dan katering), serta konsumen. Futura Foods bukan produsen: produk Sorghumfoods diproduksi dan dimiliki oleh PT Sedana Agro. Kontribusi Futura Foods adalah menghubungkan kapabilitas produksi tersebut dengan permintaan pasar, agar biji-bijian yang belum banyak dikenal dapat memperoleh tempat yang mapan di dapur profesional maupun rumah tangga. Peran ini berkaitan langsung dengan prioritas sistem pangan berkelanjutan dalam komitmen ESG Pusaka Group.
Membangun Permintaan Berdasarkan Bukti
- Uji kinerja kuliner bersama pengguna profesional. Bekerja sama dengan dapur HORECA untuk melihat perilaku bahan sorgum dalam resep nyata, mulai dari tekstur dan rasa hingga waktu pengolahan.
- Jadikan pesanan ulang sebagai sinyal utama. Pembelian pertama menunjukkan rasa ingin tahu; pesanan ulang menunjukkan bahwa suatu bahan telah mendapat tempat dalam operasional rutin.
- Buktikan klaim untuk setiap produk. Dasarkan pernyataan gizi dan lingkungan pada bukti yang spesifik untuk masing-masing produk, dan hindari generalisasi dari tanamannya secara umum.
- Sampaikan masukan kepada produsen. Teruskan pembelajaran dari pengguna agar produk dapat disempurnakan sesuai kebutuhan pasar.
Masa depan pangan yang lebih tangguh tidak akan dibangun di atas satu jenis tanaman. Ketangguhan itu tumbuh dari beragam bahan pangan yang masing-masing mendapatkan tempatnya melalui kinerja, informasi yang jujur, dan pasokan yang dapat diandalkan. Bagi sorgum, ukuran kemajuannya sederhana: apakah ia tetap dipilih di dapur setelah kesan barunya memudar.




