Pangan & Pertanian ·

Ketahanan Pangan Berawal dari Keragaman: Menata Ulang Masa Depan Pertanian Indonesia

Keragaman pertanian memperluas pilihan tanaman dan pasar, tetapi baru berakar ketika petani, pengolah, dan pelaku usaha pangan sama-sama memiliki alasan untuk mengadopsinya.

Tangan seorang petani memegang malai sorgum yang telah matang di ladang perbukitan, dengan petani lain sedang memanen di latar belakang dan pegunungan di kejauhan.
Foto ilustrasi.

Ketahanan pangan kerap dibicarakan dari sisi volume: berapa banyak padi yang dipanen, disimpan, atau diimpor. Keragaman mengajukan pertanyaan yang berbeda, yaitu seberapa banyak pilihan yang dimiliki sebuah sistem pangan ketika satu komoditas, satu wilayah, atau satu jalur pasokan mengalami tekanan. Basis tanaman dan bahan pangan yang lebih luas dapat memperkuat ketahanan, tetapi hanya jika petani dapat menjual hasil panennya dan pembeli memahami cara memanfaatkannya.

Basis pangan yang sempit adalah kerentanan

Kajian global FAO tentang keanekaragaman hayati untuk pangan dan pertanian menempatkan ragam tanaman, ternak, dan sistem budidaya sebagai fondasi produksi pangan yang tangguh, sekaligus menyoroti kekhawatiran atas menyempitnya basis tersebut (FAO, 2019). Ketika pola konsumsi dan rantai pasok sangat bergantung pada segelintir bahan pokok, guncangan seperti cuaca buruk, serangan hama, atau gejolak harga cepat merambat dari lahan hingga ke rumah tangga.

Bagi Indonesia, dengan keragaman iklim, jenis tanah, dan tradisi kulinernya, keragaman pangan bukan sekadar cita-cita. Banyak tanaman yang cocok untuk lahan kering atau curah hujan yang tidak menentu sudah dikenal dalam pengetahuan bertani masyarakat. Pertanyaannya adalah apakah tanaman tersebut dapat memperoleh tempat dalam rantai pasok modern. Agenda 2030 menempatkan upaya mengakhiri kelaparan dan mendorong pertanian berkelanjutan sebagai tujuan yang saling terkait (United Nations, 2015), sebuah pengingat bahwa apa yang ditanam dan apa yang dikonsumsi harus berubah bersama.

Keragaman harus masuk akal bagi petani

Petani menanam komoditas yang dapat dijual dengan harga yang dapat diperkirakan. Mendorong penanaman komoditas baru atau yang jarang dibudidayakan tanpa pembeli yang pasti berarti memindahkan risiko kepada pihak yang paling tidak mampu menanggungnya. Insentif yang berarti dalam praktik antara lain kepastian penyerapan hasil panen, spesifikasi mutu yang disepakati sejak awal, akses terhadap benih dan pendampingan budidaya yang sesuai, serta pembayaran yang adil dan tepat waktu.

Di antara lahan dan piring terdapat tahap pengolahan. Biji-bijian seperti sorgum perlu dibersihkan, disosoh, dan digiling sebelum menjadi tepung atau bahan lain yang dapat digunakan oleh toko roti maupun produsen makanan. Ketika kapasitas pengolahan terbatas atau jauh dari sentra produksi, panen yang baik pun sulit menjangkau pasar. Dengan demikian, diversifikasi pangan merupakan persoalan infrastruktur dan logistik, sama pentingnya dengan persoalan agronomi.

Membangun permintaan di tempat pola makan terbentuk

Penerimaan konsumen adalah ujian terakhir. Hidangan yang sudah dikenal, harga, rasa, tekstur, dan ketersediaan di rak toko menentukan apakah sebuah bahan baru menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari. Restoran, hotel, katering, dan produsen makanan memegang peran besar karena mereka mengolah bahan baku yang belum dikenal menjadi produk yang sudah akrab bagi masyarakat, seperti roti, mi, camilan, atau bubur.

Di titik inilah Futura Foods, bagian dari PT Futura Agro Nusantara, memusatkan perannya. Futura Foods menjalankan pengembangan pasar, pemasaran, dan distribusi B2B bahan pangan berbasis sorgum bagi pelaku usaha F&B, HORECA, dan konsumen. Futura Foods bukan produsen: produk Sorghumfoods yang dipasarkannya diproduksi dan dimiliki oleh mitra pemasoknya, PT Sedana Agro. Pembagian peran ini menjaga kejelasan tanggung jawab. Produksi, mutu pengolahan, dan pengadaan bahan baku tetap berada pada produsen, sementara Futura Foods berfokus membantu juru masak, produsen makanan, dan pembeli memahami bagaimana bahan berbasis sorgum dapat masuk ke dalam menu dan lini produk mereka.

Penciptaan permintaan juga berpengaruh ke hulu. Permintaan yang stabil dan dipahami dengan baik dari pelaku usaha pangan merupakan salah satu sinyal yang dapat memberi produsen, dan pada gilirannya petani, keyakinan untuk merencanakan produksi. Sistem pangan berkelanjutan sendiri merupakan salah satu prioritas lingkungan dalam komitmen keberlanjutan Pusaka Group.

Langkah bertahap menuju adopsi

Bagi pelaku usaha pangan, institusi, dan mitra yang mempertimbangkan bahan pangan yang lebih beragam, pendekatan yang terukur umumnya lebih efektif daripada janji yang luas:

  • Uji permintaan bersama pengguna nyata. Cobakan bahan pada resep yang sesungguhnya bersama juru masak, pembuat roti, dan produsen sebelum menambah volume pesanan.
  • Sepakati spesifikasi sejak awal. Persyaratan mutu, kemasan, dan waktu tunggu yang jelas membantu produsen dan pengolah menyusun rencana.
  • Pantau keandalan pasokan. Amati konsistensi pasokan dan mutu selama beberapa siklus, bukan hanya pada satu kali pengiriman.
  • Tegaskan pembagian peran. Bedakan pihak yang memproduksi, mengolah, dan memasarkan agar akuntabilitas tetap jelas.
  • Hindari klaim dampak yang belum terverifikasi. Sampaikan manfaat di tingkat tanaman atau petani hanya jika didukung bukti.

Keragaman pangan tumbuh melalui banyak keputusan komersial yang kecil: menu yang tetap dipertahankan, produsen makanan yang kembali memesan, dan pemasok yang merencanakan musim berikutnya berdasarkan pembeli yang dipercayainya. Ketahanan terbangun ketika keputusan-keputusan tersebut selaras dari lahan hingga dapur, dan ukuran kemajuan yang jujur adalah apakah bahan pangan yang beragam tetap dipilih setelah daya tarik kebaruannya memudar.

Rujukan

  1. FAO (2019). The State of the World’s Biodiversity for Food and Agriculture. www.fao.org/3/CA3129EN/CA3129EN.pdf
  2. United Nations (2015). Transforming our world: the 2030 Agenda for Sustainable Development. sdgs.un.org/2030agenda

Artikel ini merupakan perspektif berbasis riset, bukan laporan kinerja. Rujukan disediakan sebagai bacaan lanjutan.