Semakin banyak perusahaan menyebut dirinya sebagai ekosistem. Istilah ini mengesankan keterhubungan, tetapi menghimpun beberapa usaha di bawah satu nama tidak dengan sendirinya menciptakan nilai bagi pihak yang dilayani. Sekelompok perusahaan baru berfungsi sebagai ekosistem apabila aktivitas-aktivitasnya saling melengkapi di sekitar kebutuhan nyata pelanggan, dan apabila kesesuaian itu dikelola secara sengaja.
Ekosistem Ditentukan oleh Keselarasan
Adner (2017) memandang ekosistem sebagai sebuah struktur, yaitu rangkaian mitra dan aktivitas yang harus diselaraskan agar suatu proposisi nilai dapat terwujud. Penekanannya terletak pada siapa mengerjakan apa, dalam urutan seperti apa, dan bagaimana serah terima antarpihak dikelola. Dari sudut pandang ini, ekosistem bukan sekadar kumpulan merek, melainkan persoalan koordinasi. Jika pekerjaan satu pihak terlambat, spesifikasinya kurang jelas, atau tidak sesuai dengan tahap berikutnya, proposisi secara keseluruhan akan gagal, betapa pun mampunya setiap pihak secara terpisah.
Cara pandang ini sama bermanfaatnya bagi klien dan mitra seperti bagi pelaku usaha itu sendiri. Ketika bekerja sama dengan kelompok usaha yang memiliki banyak lini, pertanyaan yang lebih penting bukanlah berapa banyak layanan yang tersedia, melainkan bagaimana layanan-layanan tersebut dihubungkan. Siapa yang bertanggung jawab atas titik temu antara desain dan konstruksi, misalnya, atau antara rencana proyek dan peralatan serta tempat yang dibutuhkannya?
Dari Mana Sifat Saling Melengkapi Berasal
Jacobides, Cennamo dan Gawer (2018) berpendapat bahwa ekosistem dicirikan oleh komplementaritas: hubungan ketika nilai suatu layanan meningkat apabila digabungkan dengan layanan lain, dan ketika koordinasinya tidak cukup diserahkan pada transaksi pasar biasa. Tidak setiap pasangan usaha memenuhi kriteria ini. Dua unit dapat berada dalam satu kelompok dan memakai identitas visual yang sama, namun hanya sedikit memberikan manfaat bagi pelanggan satu sama lain.
Komplementaritas yang sesungguhnya biasanya muncul pada tahap-tahap tertentu dalam perjalanan pelanggan. Sebuah organisasi yang menyiapkan kantor baru mungkin memerlukan tim desain, kontraktor, kendaraan atau tempat sementara selama masa perpindahan, serta pendampingan untuk menyiapkan sumber daya manusia dan dokumen kepatuhan. Setiap kebutuhan dapat dipenuhi secara terpisah. Manfaat ekosistem baru terasa ketika seluruh urutan itu direncanakan sebagai satu kesatuan, sehingga celah, duplikasi pekerjaan, dan benturan jadwal dapat dikurangi. Jika urutan semacam itu tidak ada, integrasi yang dipaksakan hanya menambah biaya koordinasi.
Cara Ekosistem Pusaka Diorganisasikan
Pusaka Group menghimpun usaha di bidang koordinasi proyek, desain dan konstruksi, pengembangan pasar pangan, penyewaan, serta konsultansi. Pusaka Project Partner berperan sebagai integrator proyek yang memadukan perencanaan, pengadaan, koordinasi sumber daya, dan pengawasan pelaksanaan. Artha Karya Studio menyediakan layanan desain arsitektur dan interior, konstruksi, renovasi, serta fit-out. Sewaguna menawarkan solusi penyewaan properti, kendaraan, dan kebutuhan korporat. Futura Foods mengembangkan pasar serta mendistribusikan bahan pangan berbasis sorgum yang diproduksi oleh perusahaan mitra, sementara Pandu Adya Consulting mendampingi organisasi dalam solusi sumber daya manusia, fasilitasi sertifikasi dan kepatuhan, serta monitoring dan evaluasi.
Setiap usaha tetap bertanggung jawab atas pekerjaannya masing-masing. Keterhubungan antarunit dijalin apabila kebutuhan klien memang mencakup lebih dari satu kapabilitas, bukan atas anggapan bahwa afiliasi bersama otomatis menghasilkan sinergi. Integrator proyek dapat mengoordinasikan unit sesama kelompok maupun spesialis independen; penentunya adalah pilihan mana yang paling sesuai dengan lingkup kebutuhan klien.
Prinsip Menghubungkan Unit Usaha
- Petakan perjalanan pelanggan terlebih dahulu. Telusuri bagaimana kebutuhan klien berkembang dari satu tahap ke tahap berikutnya sebelum menentukan layanan mana yang perlu digabungkan.
- Hubungkan hanya yang benar-benar saling melengkapi. Satukan layanan apabila kombinasinya memperbaiki hasil bagi pelanggan, dan biarkan terpisah apabila tidak.
- Tegaskan kewenangan pengambilan keputusan. Sepakati siapa yang memimpin, siapa yang mendukung, dan siapa yang menyelesaikan perbedaan di setiap titik temu antarunit.
- Ukur keterhubungannya, bukan hanya unitnya. Pantau rujukan lintas unit dan mutu pelaksanaan bersama, sehingga integrasi dinilai berdasarkan bukti, bukan niat.
Sebuah ekosistem layak disebut demikian apabila keterhubungan di dalamnya dikelola secermat masing-masing usahanya. Bagi kelompok usaha yang terdiversifikasi, pekerjaan yang paling menentukan sering kali terjadi di batas antarunit: serah terima, rencana bersama, dan pembagian tanggung jawab yang disepakati, sehingga klien dapat berpindah dari satu kapabilitas ke kapabilitas berikutnya tanpa harus memulai dari awal.




